Pernah lihatkan tumpukan kursi
rusak yang ada di lantai 3 tepatnya di pojok kiri lantai 3 (depan Toilet cowo)
atau di samping Markas besar DPM.Tumpukan itu
sebenernya tidaklah begitu menarik
untuk dilihat,tetapi Tumpukan itu
menjadi menarik apabila kita bertanya: sejak kapan tumpukan itu ada? Kira-kira
berapa ya jumlah kursi-kursi yang rusak itu? Dan kenapa kursi-kursi yang rusak
itu tidak dipindahkan ketempat yang semestinya?.
Oke
sekarang kita bahas satu persatu. Sejak kapan tumpukan kursi rusak itu ada?
Menurut Saepul Alam(3D) “sejak saya masuk ke kampus tanah baru tumpukan kursi
itu sudah ada”. Kami pun menanyakan juga kepada beberapa mahasiswa AKA yang jawabannya seragam seperti Saepul Alam Mereka juga tidak
mengetahui asal usul tumpukan kursi rusak yang misterius itu.
Lanjut
ke pertanyaan ke dua. Kira-kira berapa jumlah kursi-kursi yang rusak itu? Untuk
yang ini kami rasa tidak ada satu pun mahasiswa yang tahu pasti berapa banyak
kursi rusak yang di tumpuk itu. Pasalnya jumlah kursi itu akan terus bertambah
jika ada kursi lain yang rusak.
Dan
yang terakhir kenapa tumpukan kursi rusak itu tidak dipindahkan ke tempat yang
semestinya?. Sebelum kita bahas coba deh perhatiin angka-angka yang tertulis di
kursinya (ada tanggal, bulan, tahun) angka-angkanya memnentuk suatu pola yang
merupakan penomoran Inventaris pada suatu barang artinya walaupun kursi-kursi
itu sudah rusak yang berhak memindahkan adalah orang-orang dari Akademik.
Tetapi yang jadi pertanyaan kenapa orang-orang yang mempunyai wewenang tidak
memindahkan saja tumpukan kursi yang rusak itu ke temapat yang semestinya. Kami
menanyakan pendapat kepada beberapa mahasiswa
tentang tumpukan kursi itu. Pendapat-pendapatnya pun beragam salah
satunya dari Luthfi Ilham Perdana “kalau bisa sih diperbaikin biar bisa dipakai
lagi kalau gak bisa, dijual aja nanti uangnya bisa dibeliin peralatan yang
belum ada”.
